8 Tahap Yang Perlu Diketahui Orang Tua dalam Mempersiapkan Anak Generasi Maju

Akhir-akhir ini sebetulnya saya galau.
Peraturan mengenai perpanjangan usia pensiun setiap beberapa tahun yang memungkinkan perusahaan mempekerjakan pekerja berusia 60 tahun.
Kebayang dong di masa depan lowongan pekerjaan akan semakin susah. Saat ini aja cukup sulit untuk mencari pekerjaan. Katanya di masa depan, orang-orang yang kreatif lah yang akan berhasil.
Kemarin-kemarin juga saya baca mengenai anak remaja yang bunuh diri. Saya tidak ingin menyalahkan mereka, hanya saja saya berpikir mungkin kita sebagai orang tua, atau kita selaku orang-orang disekitarnya turut berperan serta.
Kebayang anak-anak saya di masa depan, jika tanpa ada orang yang selama ini melindunginya, akan seperti apa mereka?
Saya sebagai ibu dari dua orang anak yang dua-duanya merupakan perempuan, terkadang masih terbawa emosi menghadapi kelakuan mereka. Kebetulan kedua anak saya usianya tidak terpaut jauh, layaknya bagai si kembar. Terkadang saya merasa bahwa hal ini ada keuntungannya, karena mereka bisa menjadi teman. Tetapi ada kalanya pada saat berantem, bisa membuat kegaduhan seisi rumah. Belum lagi masalah jeaoulesy si kakak ke adiknya yang tak jarang membuat kening saya berkerut-kerut. Duuuh, bisa tua sebelum waktunya deh.
Apa yang bisa saya lakukan untuk mereka, sebelum akhirnya menjadi terlambat?
Setiap orang tua pasti mengharapkan anak-anaknya mempunyai masa depan yang lebih baik. Yakin deh, ngga ada orang tua yang ingin anaknya lebih buruk darinya. Pemikiran ini yang mendasari saya menerima ajakan mengikuti seminar parenting “Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Kemampuan si Kecil menjadi Generasi Maju” yang merupakan bagian dari dukungan SGM Explore bagi orang tua Indonesia.
Acaranya sendiri dilakukan di Hotel santika Premier Slipi, Jakarta, pada tanggal 29 Juli 2017.
Upgrade ilmu Parenting bersama para Moms kece dan SGM Explore
Ada banyak hal yang saya petik dari menghadiri acara ini. Pertama saya bisa introspeksi diri apakah selama ini saya sudah on the track dalam mendampingi anak-anak dan mempersiapkan mereka menjadi generasi maju. Kedua, saya diingatkan kembali bahwa dukungan nutrisi yang baik merupakan hal yang utama untuk membentuk generasi maju. Ketiga, saya memperoleh informasi tambahan mengenai tips-tips parenting yang disediakan melalui digital www.akuanaksgm.co.id. Keempat, saya mendapatkan sharing dari para orang tua hebat yang hadir di acara parenting kemarin bagaimana perjuangan mereka membesarkan anak-anaknya, seperti halnya Mbak Astin Astanti dan yang lainnya (kalian hebat, Moms!).
Nah, sekarang apa sih yang disebut GENERASI MAJU?
Ciri anak generasi maju menurut Psikolog Anak, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Psi yang hadir dalam acara SGM Explore, adalah sebagai berikut:
1.    Anak yang bertubuh sehat karena asupan nutrisinya terpenuhi,
2.    Anak cerdas, kreatif sesuai dengan tingkatan usianya
3.    Anak yang mempunyai emosi baik, mandiri, sehingga mampu untuk bersosialisasi.
Untuk menciptakan anak yang cerdas, kreatif, dan kemampuan sosialisasi yang baik, yang pertama harus dipenuhi adalah nutrisinya. Jadi sebagai orang tua kita tidak boleh lalai dalam memperhatikan asupan nutrisi si kecil.
Ciri-ciri Anak Generasi Maju
Untuk mengembangkan keterampilan si anak sendiri, ada 8 hal yang perlu diperhatikan. 3 hal di tahap awal, dan lima hal di tahap lanjutan.

1.     Kedekatan dengan orang tua

Ikatan kasih sayang antara si kecil dengan Ayah Bunda dapat membangun rasa percaya diri anak. Kedekatan atau attachment ini berbeda dengan bonding di mana bonding lebih satu arah.
Mbak Nina, sapaan dari Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Psi, memberikan tipsnya bagaimana mengembangkan kedekatan antara orang tua dan anak yaitu orang tua perlu sensitif pada kebutuhan si kecil, saling menatap dan memeluk, beri kesempatan anak bermain sendiri, jangan berbohong pada si kecil, bersabar terhadap prilaku si kecil.
Ada yang pernah bilang:  “ayo makannya dihabiskan, kalau ngga habis nanti disuntik dokter, lho!”
Menurut Mbak Nina, kata-kata seperti ini justru akan membuat si kecil tidak percaya pada kita sebagai orang tua, karena saat habis dan tidak habis makanannya, dokter datang.
Jangan pernah memberikan kata-kata yang mengawang-ngawang, nasihatnya.
Hmmm, jadi ingat cerita salah satu teman, yang kalau anaknya lagi bandel, dia bilang, “hilangin deh setan ditubuhnya yang bikin Ade bandel”. Sampai sekarang anaknya penakut dan merasa setan selalu mengikutinya.

2.         Rasa percaya kepada orang tua

Agar si kecil pandai bergaul, mandiri dan percaya diri, fondasi pertama adalah mengembangkan rasa percaya (trust) si kecil pada lingkungannya sejak usia dini. Dari rasa percaya ini akan muncul self confidence.
Bagaimana membangun rasa percaya diri anak? Tips dari Mbak Nina adalah ketika si kecil menangis berikan tanggapan segera dengan cara digendong, dipeluk ataupun memberikan kata-kata menenangkan; berikan aturan sebelum aktivitas dilakukan; tepati janji yang sudah diucapkan kepada si kecil; dengarkan dengan seksama ketika si kecil sedang berceloteh.
Contoh kecil saat akan bermain, di awal sudah dibilang bahwa nanti setelah bermain, mainannya dibereskan kembali. Peringatannya jangan dilakukan di akhir ya.
Hmmm, jadi inget saya suka marah-marah kalau rumah berantakan gara-gara mainan anak-anak. Ini kenapa rumah berantakan! Beresin! Bubu ngga suka lihat berantakan seperti ini!
Aduh, jadi pengen tepok jidat.

3.         Mandiri

Tentunya bangga ya punya anak yang mandiri. Teman saya ada yang pernah cerita bahwa teman anaknya seusia SMP tinggal sendiri di rumahnya, mengurus kepentingannya sendiri, sementara orang tuannya tinggal di luar kota. Terus terang saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak seusia itu sudah mandiri mengurus segala kepentingannya sendiri. Saya bertanya-tanya bagaimana orang tuanya membentuk kepribadiannya.
Anak Generasi Maju memiliki emosi yang baik dan sehat, seperti kemandirian
Mandiri ini tentunya dilandasi dengan rasa percaya diri yang kuat. Untuk mengembangkan kemandirian si kecil di usia dini, menurut Mbak Nina, orang tua harus memberikan kesempatan kepada si kecil untuk mencoba, tidak memburu-buru si kecil ketika mencoba, dan memberikan pujian, pelukan serta ekspresi wajah menyenangkan ketika si kecil berhasil.
Jadi selalu ekspresikan penghargaan atas keberhasilan si kecil.

4.         Mengenal emosi

Tahap selanjutnya yang perlu dikembangkan adalah mengendalikan emosi. Menurut Mbak Nina, emosi itu sebetulnya ada emosi positif ada emosi negatif. Jangan salah, emosi itu tidak melulu dikaitkan dengan marah. Emosi itu bisa juga perasaan senang, gembira, sedih dan lain sebagainya. Yang perlu kita pahami adalah mengenalkan berbagai emosi tersebut kepada si kecil.
Misalkan ketika si kecil sedang gembira, katakan: “wah kamu lagi SENANG!”
Atau sebutkan emosi yang sedang kita rasakan, misalnya: “Bunda jijik nih melihat piring kotor berantakan. Bunda cuci piring dulu, ya.”
Ajak juga si kecil mengenal emosi orang lain, “sepertinya anak yang berbaju biru itu sedih karena ditinggal ayahnya.”
Bisa juga orang tua menggunakan boneka dan menyebutkan berbagai macam emosi.

5.         Menjaga diri sendiri

Menjaga diri sendiri juga perlu diperkenalkan kepada si kecil. Rumah sebisa mungkin disetting ramah anak, misalkan dengan electricity plug di atas yang sulit terjangkau anak kecil, atau dengan memberikan cover.

6.         Kemampuan berkomunikasi

Kemampuan berkomunikasi juga tak kalah pentingnya. Ada kan di dalam kehidupan bermasyarakat orang yang nyinyir dan nyebelin. Atau ada Bunda yang merasa, kok anak saya pendiam sekali dibandingkan temannya yang lebih aktif berceloteh di kelas?
Nah, dari sejak kecil anak-anak harus diajarkan bagaimana menyampaikan dengan baik sehingga tidak mengganggu orang lain ataupun dirinya sendiri.
Jadi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi si kecil, kita harus mengajaknya berbicara, bercerita dan bernyanyi sebagai tahap awal. Untuk tahap selanjutnya pancing dengan pertanyaan sehingga dia mau bercerita dan dengarkan cerita si kecil dengan seksama.

7.         Fokus / Konsentrasi & Imajinasi

Fokus / konsentrasi serta imajinasi anak juga perlu dikembangkan. Hal ini berfungsi supaya si anak berorientasi pada pekerjaannya sampai selesai juga membangun daya kreativitasnya.
Cara meningkatkan konsentrasi dapat dimulai dengan mematikan televisi / radio, menjauhkan Hp, mengurangi omelan. Kemudian bujuk si kecil untuk menyelesaikan kegiatannya sebelum melakukan yang lain. Dan tak kalah pentingnya pastikan si kecil melakukan aktivitas fisik untuk melatih syaraf-syaraf motoriknya.
Sedangkan untuk meningkatkan imajinasi, ajak si kecil membuat cerita dari gambar atau boneka, bermain pura-pura tamu-tamuan sambil memperkenalkan si kecil etika bertamu, ketika mendongeng ajak si kecil meneruskan cerita dongeng sesuka dia.

8.         Empati

Empati juga perlu diajarkan pada si kecil supaya mereka bisa bersosialisasi dengan baik.
Lebih lanjut Mbak Nina menjelaskan 8 keterampilan sosial yang perlu dikuasai oleh si kecil dan bagaimana mengajarkannya, seperti: berteman & bekerja sama, berkompetisi dengan sehat, sabar menunggu (antre), sopan santun, mendamaikan pertengkaran, marah tanpa mengganggu orang lain, mengikuti aturan, peduli pada orang sakit/kekurangan.
Untuk mengembangkan 8 keterampilan sosial ini, saya ceritakan terpisah ya, pada artikel selanjutnya.
Selain seminar parenting, SGM Explore juga melakukan konferensi pers terkait dengan dukungan SGM Explore dalam mendukung perjuangan para orang tua Indonesia mempersiapkan si kecil menjadi anak generasi maju.
Menurut Marketing Manager SGM Explore, Astrid Prasetyo, banyak kegiatan yang dilakukan SGM Explore guna mendukung orang tua Indonesia, yaitu melalui road show parenting di berbagai kota, melalui Mobi Aku Anak SGM yang berkeliling ke berbagai daerah, juga melalui aset digital seperti facebook Aku Anak SGM juga yang baru di launching adalah website www.akuanaksgm.co.id agar orang tua mempunyai tempat untuk mendapatkan ilmu dan tips terkait dengan nutrisi dan pola asuh Anak Generasi Maju. Oya, untuk layanan facebooknya sudah dilengkapi live chat dengan para ahli nutrisi dan parenting lho! Jadi pengen nyoba live chat, secara anak saya kan alergi, jadi saya cukup kerepotan untuk memenuhi asupan nutrisi yang diperlukannya. Padahal asupan nutrisi ini sangat penting dalam pertumbuhan anak.
Ditambahkan pula oleh Naomi Jamarro, Connection Manager SGM Explore, pada website baru SGM Explore ini, orang tua dapat memperoleh informasi melalui 3 pilar utama, yaitu: pilar nutrisi, pilar edukasi dan pilar parenting. Para orang tua juga bisa berbagi video cerita inspirasi mengenai perjuangannya dalam membesarkan anak sehingga dapat menginspirasi para orang tua lainnya untuk terus berjuang menjadikan si kecil Anak Generasi Maju.
SGM Explore mendukung para orang tua untuk mempersiapkan Anak Generasi Maju dengan beragam kegiatan
Yang penasaran mengenai SGM Explore bisa di follow media sosialnya ataupun mengunjungi websitenya di atas. 

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar. Silahkan tinggalkan jejak, ya.

Follow my media social for any update of articles
Twitter: @mandalagiri_ID
Instagram: mandalagiri_ID

 

About Me

My Photo

Travel - Eat - Write
"Learn from yesterday, life for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning - Albert Einstein"

Facebook | Levina.Mandalagiri
Twitter | @mandalagiri_ID
Instagram | mandalagiri_ID

Followers

Google+ Followers

Warung Blogger

Hijab Blogger

Kumpulan Emak Blogger

IDCorner

ID Corners

Fun Blogging

Fun Blogging

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan