Menanti Cinta dan Harapan di Jembatan Cinta Pulau Tidung

traveling wisata laut
Jembatan Cinta dilihat dari arah laut

Pulau Tidung, Berlabuh Hati di Jembatan Cinta 

"Love isn't something you find. Love is something that finds you." 
Loretta Young  
Mungkin hal itu yang tersirat dari The Bridge of Love Pulau Tidung. Cinta adalah sesuatu yang mempertemukanmu. Jembatan yang terdapat di pulau ini seolah mengisyaratkan pertemuan cinta antara dua pulau.

Pulau Tidung merupakan salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Kedua pulau ini dihubungkan oleh jembatan panjang yang dikenal dengan Jembatan Cinta atau The Bridge of Love. Namanya terukir pada tugu di tepi pantai Pulau Tidung Besar. 

Panjang Jembatan Cinta sekitar 800 meter. Dilihat dari arah lautan, terlihat bagaikan garis yang menghubungkan dua titik. Semakin mendekat ke garis pantai, terlihat pangkal jembatan berbentuk melengkung, sehingga permukaannya lebih tinggi dibandingkan garis jembatan. Jembatan terbuat dari kayu, menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. 

traveling wisata laut
Lengkungan Jembatan Cinta
Sesekali terlihat orang meloncat dari atas jembatan lengkung. Hal ini merupakan atraksi tersendiri bagi wisatawan. Silahkan dicoba, bagi yang ingin uji nyali melompat dari atas jembatan ini. Konon menurut mitos, jika wisatawan loncat dari Jembatan Cinta ini, dia akan segera menemukan cinta sejatinya. Anyway it just a myth, don't believe it too hard.

traveling wisata laut
The Bridge of Love, Wooden Bridge
Berjalan di atas Jembatan Cinta, seolah sedang menapaki harapan kehidupan. Penuh rasa kepenasaran sekaligus rasa takut dan keraguan. Ada apa nun jauh di ujung pulau seberang. Adakah kehidupan seperti di sisi pulau yang satunya? Terlihat nun jauh di ujung jembatan, pepohonan hijau membentuk segerombolan kawasan kecil, dengan jembatan panjang membelah lautan. Seluas mata memandang, kanan kiri jembatan hanya birunya air laut. Hati berdesir ketika kaki menapak di kayu. Bagaimana jika sampai di tengah jembatan, kayu yang dipijak tidak kuat menahan bobot tubuh? Tapi rasa penasaran yang kuat mengalahkan segalanya.

Di sepanjang jembatan cinta, kulihat di beberapa spot, orang berdiri ditepi jembatan memegangi batang pancing menunggu kail di sangkut ikan. Air laut di bawah jembatan sangat jernih. Kulongokkan kepala, dasarnya terlihat jelas. Kulirik orang memancing disebelahku, kulongok kembali ke arah ujung pancingnya. Tidak ada satu ikan pun terlihat. Bingung! Hmmm...mancing apa yak dia? Mencoba memancing cinta barangkali, pikirku sambil beranjak ke spot yang lain.

traveling wisata laut
Pemandangan dari Jembatan Cinta

Cuaca sedikit cerah, sang sinar kehidupan pun masih malu-malu keluar dari peraduannya.Awan kelabu tipis masih menggelayut, seolah masih rindu meninggalkan kekasihnya di atas Jembatan Cinta, walaupun sepanjang malam telah menemaninya diiringi dengan lantunan simfoni titik titik air yang membasahi bumi. Kuharap kelabu akan semakin memudar dan sinar kuning berpendar di ujung Tidung Kecil. 

Tap, tap, tap. Bunyi kaki-kaki kecil Naylal dan Aisya terdengar makin kerap. Terlihat mereka berlarian sepanjang Jembatan Cinta. Oh, what a kid's world! Dunia selalu penuh warna bagi mereka. Tanpa takut menghadapi jalan panjang menghadang di depan. Aku tersenyum melihat keriangan mereka.

traveling wisata laut
Mendung di atas Jembatan
Setitik air jatuh mengenai mata. Ku bentangkan telapak tangan kiriku dan kutengadahkan wajahku melihat langit. Tes, tes, tes, titik-titik air jatuh menimpa wajahku. "Hujan!" teriak anak-anak. Mereka semakin riang menyaksikan hujan di tengah Jembatan Cinta. Menyaksikan hujan turun di mana sekelilingnya adalah lautan luas, mungkin merupakan pengalaman pertama mereka. 

"Ayo lari!" ajakku, kututupi kepala dengan kedua tangan, sambil berlari ke arah Tidung Kecil. Di kelokan jembatan yang terletak di tengah jembatan, terlihat tempat bernaung. Anak-anak di depan bukannya berlari menuju shelter, malah semakin bersenda gurau. "Ayo, buruan! Hujannya semakin besar!" teriakku dari belakang mereka. 

Dan, akhirnya kami pun berlabuh di shelter Jembatan Cinta, sambil menunggu hujan reda. Kutengok, ke arah Tidung Kecil, masih agak jauh. Kulirik beberapa remaja, menuruni anak tangga menuju laut. Area sekitar shelter tidak terlalu dalam, sehingga banyak orang turun untuk sekedar foto-foto.

traveling wisata laut
Shelter Jembatan Cinta
Hmmm...berada di shelter ini, menunggu hujan reda, melihat setengah panjang jembatan yang telah ditempuh, dan kurang dari setengah jembatan yang harus ditempuh menuju Tidung Kecil, mau tak mau mengingatkanku pada hakikat kehidupan. Mungkin saat ini kita juga sedang menunggu. Menunggu giliran untuk dipanggil yang Kuasa. Kembali ke dalam pelukan-Nya. Apa yang harus kita lakukan dalam masa menunggu ini adalah menikmati, mensyukuri dan menjalani sesuai dengan aturan-Nya. Gunakan waktu sebaik-baiknya. Dunia hanya tempat pemberhentian sementara. Seperti halnya perumpamaan yang disampaikan Baginda Rasul, "jadilah engkau hidup di dunia ini seperti seorang asing atau musafir (orang yang bepergian)."

Seorang traveler (musafir), tidak pernah terikat oleh tempat yang didatanginya, selalu rindu pulang kampung. Mungkin begitu pula perumpamaan musafir di dunia. Hati tidak terikat dengan dunia. Mengumpulkan sebanyak mungkin amal perbuatan untuk kembali ke tempat asal. Seorang musafir tidak kenal lelah berjalan, begitu pula di dunia ini, tidak kenal lelah untuk selalu mengisi kehidupan dengan amal perbuatan yang baik.
traveling wisata laut
Travel with family

Hujanpun mulai reda, handphone berdering, ayah bilang, "sudah ditunggu, jadwal kepulangan dimajukan."

traveling wisata laut
Prasasti The Bridge of Love
Tidung kecil tidak sempat kami singgahi. Sebuah sepeda melintas di depan kami, menuju Tidung Kecil dengan cepatnya. Sekantung plastik ikan jatuh berserakan di atas kayu jembatan. Sayang, sang pengayuh sepeda, mengayuh sepedanya dengan kencang, sehingga teriakan kami hilang terbawa angin. Sepeda semakin menjauh, sehingga tinggal titik kecil dikejauhan. Ada apakah gerangan di sana? Menurut tour guide, Tidung Kecil tidak berpenghuni dan hanya diperuntukan untuk pertanian, perkebunan, budidaya terumbu karang juga pengembangbiakan mangrove. Kelak, mendengar cerita teman seperjalanan yang sempat singgah di Tidung Kecil sehari sebelumnya, terdapat satu warung kecil di Tidung Kecil. Artinya, pulau ini tidak benar-benar tidak berpenghuni. Masih ada kehidupan di sana.

Inilah kisah Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan oleh Jembatan Cinta. Mereka saling menemukan, seperti yang tertulis dalam tugu Jembatan Cinta di pantai Tidung Besar. Inilah bunyi tugu prasasti Jembatan Cinta:

Jembatan Cinta

Menurut cerita yang beredar. Suatu waktu di Pulau Tidung bertemulah seorang pria dan seorang wanita yang identitasnya masih misteri. Mereka pun saling jatuh cinta dan menjadikan jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil sebagai tempat memadu kasih. Mereka menyapa matahari terbit, berpegangan tangan, dan melewati jembatan dari awal hingga akhir. Akhirnya mereka pun menikah dan hidup bahagia. Jembatan yang telah menjadi saksi cinta sejati mereka dikenal dengan sebutan Jembatan Cinta.

The Bridge of Love

Based on a public story. Once upon time, there were unknown man and woman met in this island. They fell in love and made the wooden bridge that connects big island with the little one as a dating place. They saw sunrise together, holding hands, and crossing the bridge together from the beginning till the end. Finally, they married and happily ever after. The bridge has been a witness to their true love known as The Bridge of Love


Entahlah kebenaran dari kisah Jembatan Cinta. Yang pasti ketika aku bertanya pada tour guide, "kenapa dinamakan Jembatan Cinta, Pak?"

"Entahlah, tiba-tiba terkenal saja namanya dengan nama Jembatan Cinta," jawab bapak pemandu kami. 

Whatever the name, this island is so beautiful. This is Indonesia in my eyes. Beautiful you!


1 comments:

  1. artikel di blog ini sangat menarik dan bagus
    terimakasih gan

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar. Silahkan tinggalkan jejak, ya.

Follow my media social for any update of articles
Twitter: @mandalagiri_ID
Instagram: mandalagiri_ID

 

About Me

My Photo

Travel - Eat - Write
"Learn from yesterday, life for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning - Albert Einstein"

Facebook | Levina.Mandalagiri
Twitter | @mandalagiri_ID
Instagram | mandalagiri_ID

Followers

Google+ Followers

Warung Blogger

Hijab Blogger

Kumpulan Emak Blogger

IDCorner

ID Corners

Fun Blogging

Fun Blogging

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan