Perjalanan Terjauh dan Terberat (Part-2)

perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Di  Malaka, sangat beruntung sekali penginapan kami berseberangan dengan Masjid Kampung Kling yang terkenal sebagai salah satu masjid tertua di Kota Merah Malaka. Saya bertekad untuk menunaikan sholat Shubuh di masjid, esok hari. 
Tidak seperti halnya di Singapura, di Malaka saya mendengar suara adzan Shubuh yang menembus kayu-kayu jendela tanpa kaca, kamar saya yang kebetulan letaknya paling depan. Alangkah senangnya hati saya begitu mendengar suara tersebut. Tak sabar, saya membuka jendela kamar. Menara masjid terlihat dari tempat saya berdiri.  Walaupun suara adzannya tidak sekencang di Indonesia, saya sudah merasa senang, minimal suasananya lebih terasa dibanding saat di Singapura. 
Bergegas saya bangunkan Azka, mengajaknya ke Masjid Kampung Kling. Terbayang, asyiknya sholat berjama'ah berbaur dengan masyarakat sekitar. Suasana guest house masih gelap, penghuninya masih terlelap dalam peraduan. Mengendap-ngendap, berusaha tidak membuat kebisingan, kami berjalan keluar.
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Menara Masjid Kling, terlihat dari kejauhan.
Seorang nenek berambut putih pendek dengan baju rumahan, terlihat mengendarai sepeda berlawanan dengan arah kami berjalan.  Dari wajah dan mata sipitnya, saya menebak bahwa nenek tersebut keturunan China. Tidak mengherankan, karena Malaka sejak dahulu kala adalah tempat bercampurnya berbagai suku bangsa.
Sebagai bekas kerajaan Islam, Malaka masih menyimpan tanda-tanda kebesarannya. Terdapat banyak masjid tua di Malaka: Masjid Kampung Hulu, Masjid Tengkera, Masjid Kampung Kling, dan lainnya. Tidak sulit untuk menemukan lokasi-lokasi masjid dan tempat bersejarah lainnya di Malaka, karena di banyak sudut jalan ada peta informasi yang memudahkan para pelancong. 
Masjid Kampung Kling yang terletak di Jalan Tukang Besi merupakan salah satu bangunan warisan Malaka tempo dulu. Salah satu keunikan masjid-masjid di Malaka ini adalah arsitekturnya yang merupakan paduan dari berbagai macam budaya seperti Sumatera, China dan Melayu. Masjid Kampung Kling sangat dipengaruhi oleh China, terlihat dari banyaknya ornamen-ornamen China juga marmer yang menghiasi bangunan. Dilengkapi dengan air mancur yang cantik, membuat mesjid ini sangat menawan.  
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpurperjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Keunikan Masjid Kampung Kling, salah satunya adalah karena berada satu komplek dengan kuil Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi, yaitu kuil umat Hindu sebagai bentuk persembahan terhadap Ganesha dan kuil Cheng Hoon Teng, yaitu kuil umat Budha sebagai bentuk persembahan terhadap Dewi Kuan Im. Tidaklah heran jika dulu Jalan Tukang Emas ini dikenal juga sebagai Jalan Harmoni. Menunjukan kehidupan yang harmoni antar umat beragama di kawasan perkampungan China Malaka ini. 
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Arsitektur Masjid Kling sangat menawan, merupakan perpaduan Sumatera, China & Melayu
Di sini lah pertama kali aku mendengar suara adzan, disusul kemudian bunyi kloneng lonceng dan bunyi lonceng lainnya secara berurutan di pagi hari. Pagi hari tidak hanya umat Islam yang bergeliat, tetapi para biksu juga terlihat sedang mempersiapkan untuk upacara ibadah. Sepintas saya melihat para biksu menyalakan dupa dan menyimpannya ditempat pemujaan. 
Memasuki area Masjid Kampung Kling, serasa berada di tanah air. Jema'ah belum berdatangan. Tempat area perempuan pun masih kosong. Di pintu masuk masjid tergantung gamis-gamis panjang di gantungan besi panjang beroda.  
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpurperjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
"Ibu, banyak kotoran burung," bisik Azka, sambil menunjuk ke arah karpet masjid yang cantik, yang sayangnya terkena onggokan kecil putih kotoran burung. 
"Di belakang sini bersih Ka," sahut saya pelan, takut mengganggu jemaah pria di jajaran depan. Azka menggelengkan kepala, "Kaka sholat di penginapan saja Bu." 
Sampai menjelang sholat subuh hanya 3 orang yang ada di deretan barisan laki-laki, 1 imam dan 2 ma'mum, sedangkan area perempuan hanya kami berdua. Ah, mungkin di Malaka, hanya para pria yang berangkat ke masjid, pikir saya. 
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Sholat Shubuh di Masjid Kling, Malaka
Sedikit kecewa melihat hanya segelintir orang yang sembahyang di masjid. Jumlahnya pun jauh lebih sedikit dari jema'ah masjid kompleks di tanah air. Tapi, hal ini tidak menyurutkan langkah untuk mengenal masjid lain yang akan ditemui sepanjang perjalanan di "jalur sutra". Dan next destination adalah masjid di Kuala Lumpur. 
Masjid bersejarah di Kuala Lumpur yang terkenal adalah Masjid Jamek. Letaknya hanya 1 stasiun pemberhentian kereta komuter dari stasiun Pasar Seni, tempat kami menginap di daerah China Town. Berjalan kaki pun sebetulnya bisa. Turis asal Kazastan, yang ternyata punya hobi mirip menyambangi bangunan mesjid, bernama Nurbek bilang, "arsitektur Masjid Jamek sangat menawan." 
Sedikit sedih mendengar komentarnya tentang Masjid Jamek, yang sebenarnya ingin  saya sambangi, tetapi karena keterbatasan waktu akhirnya hanya sempat menyaksikan Masjid Jamek dari atas Jembatan belakang Pasar Seni. 
Dan, sebagai gantinya, terdamparlah kami, sholat dhuhur di Masjid Negara Kuala Lumpur. 
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Ada taman air di dekat masjid negara, cuaca panas pun menjadi adem
Tidak seperti halnya masjid lainnya dengan ciri khas kubah melengkung bentuk dome, Masjid Negara memiliki ciri arsitektur yang lebih sederhana dan artistik. Di teras dan halaman masjid terdapat kolam air dengan pancaran air dari berbagai titik. Sehingga walaupun cuaca panas, adanya unsur air membuat efek dingin di sekitarnya. 
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Bentuk kubah masjid negara
Azka sangat antusias, 1 hari menjelang kepulangan ke tanah air, alerginya belum menunjukan tanda-tanda. "Ibu, kenapa orang itu berpakaian ungu? Cantik sekali Bu," tunjuk Azka, matanya menatap segerombolan orang berjubah ungu sedangkan perempuan dilengkapi hijab menutupi kepala mereka, sebagian rambut poninya terlihat dibalik jilbabnya yang berkibar. Sesaat saya melongo, ini asrama atau masjid? Saya jadi ragu untuk memasuki area masjid, secara saya cuma mengenakan kaos dan celana jeans.
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
Mesjid negara ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan
"Harus menggunakan jubah ungu untuk masuk masjid?" tanya saya pada anak perempuan yang duduk di teras masjid. 
"Itu buat yang bukan Islam. Awak tak apa, kerana muslim", jawabnya sambil menunjuk ke arah jilbab yang saya kenakan. 
Ah, saya baru mengerti. Rupanya Masjid Negara selain didatangi umat Islam, ramai juga didatangi para pelancong non Islam. Sehingga pengurus masjid menyiapkan jubah untuk mereka kenakan sebelum memasuki area masjid. Mereka terlihat antusias bertanya seputar Islam pada para petugas. Lucunya, mereka berselfie ria dan exciting dengan kostum serba tertutup tersebut. Saya mengamati ada orang Korea, Jepang, negara-negara Eropa, dan lainnya. Yang perempuan terlihat cantik dalam balutan busana muslimah.
perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
berpose bersama uni - uni cantik
Seperti halnya masjid di Indonesia, jumlah orang yang melaksanakan sholat di Masjid Negara pun bisa dihitung dengan jari. Barisan laki-laki pun tidak sampai 2 shaf. 
Tiba-tiba aku merasa bahwa Islam memang kembali kepada keterasingan. Bangunan masjid yang megah dan luas hanya berisi segelintir orang. Mungkin tidak hanya di Singapura ataupun di Malaysia, di Indonesia pun serupa. Tiba-tiba masjid hanya menjadi sebuah bangunan heritage yang didatangi wisatawan untuk sekedar melancong dan mendengarkan sejarahnya. 
Ternyata perjalanan terjauh dan terberat bukanlah pergi menuju penjuru dunia. Bukan pula perjalanan meraih titel sarjana, bukan pula backpacker bersama anak-anak. Perjalanan terjauh dan terberat adalah menuju masjid. Walaupun hanya beberapa langkah dari mesjid, tak jarang kita lebih memilih mengerjakan sholat di rumah. Tak jarang kita memilih menarik selimut kembali saat adzan subuh berkumandang daripada bergegas menuju Masjid. 
Mudahnya bepergian ke seluruh penjuru dunia, Jepang, Korea, Turki, Amerika, tetapi berat sekali kaki melangkah menuju rumah-Nya. Jarak yang terbentang beberapa langkah tiba-tiba berubah menjadi jarak tidak terhingga. 

perjalanan singapura, malaka, kuala lumpur
*Sebuah renungan perjalanan, Agustus 2015 

17 comments:

  1. bagus banget mbak ya disana, masjid masjid bersejarah berdiri gagah tak lekang dimakan waktu

    ReplyDelete
  2. Asik yah travelling ke tempat yang memiliki tantangan kayak gini.

    ReplyDelete
  3. Traveling ke tempat baru tambah pengalaman baru, salah satunya dengan melihat langsung sikap toleransi antar umat beragama.

    ReplyDelete
  4. Seru dan tempatnya bagus banget ya Mbak. Pingin travelling sampai sono :)

    ReplyDelete
  5. Subhanallah, masjidnya cakep mba, bersih, penuh warna jadi betah juga buat lama2 di sana, semoga udaranya juga sejuk

    ReplyDelete
  6. Mbak, paragraf terakhir itu 'jleb' banget buat saya. Daleeemm :)

    ReplyDelete
  7. Wah ada foto dalamnya Masjid Kampung Keling. Saya waktu itu cuma lihatnya luarnya aja

    ReplyDelete
  8. Kalimat penutupnya bikin hati tertujes2 nih :/

    ReplyDelete
  9. Masjidnya indah ya yang di Malaka itu, sayang jamaahnya dikit, kondisinya kyk ngingetin kondisi di tanah air.

    Kalimat terakhirnya mak jleb banget mbk TFS :)

    ReplyDelete
  10. tertampar banget baca kata2 terakhir :(.. bener ya mbak, perjalanan terberat itu memang ke mesjid... rumahku itu cuma beberapa langkah doang dr mesjid, tp aku malu hrs bilang, aku blm pernah sholat di sana -__-. lebih milih slalu di rumah...

    ReplyDelete
  11. Ya Allah mba, jd malu karena jarang ke masjid tp ambisinya pengen keliling dunia, hikss

    ReplyDelete
  12. Melaka nyaman banget yaa buat pejalan kaki, apalagi kalo bawa anak kecil pasti senang diajak main ke outdoor yang nggak begitu ramai dari kendaraan lalu lalang.

    Jadi, perjalanan kali ini untuk menelusuri sejarah islam di negara tetangga ya? :)

    ReplyDelete
  13. asyiknya mbak. pengen deh suatu saat bisa ke malaka juga

    ReplyDelete
  14. Klo gak salah di Malaka banyak bangunan portugis juga ya
    Seru mbak, salut bisa traveling sama anak-anak, ke Malaka pula :)

    ReplyDelete
  15. Ngeliat fotonya, jadi kangen sama Malaka. Kota yang masih jadi destinasi favoritku di Malaysia :) seru perjalanannya mbak, jadi keingat solat di Masjid Kling. Aku menginap di ruko persis di depannya dulu :)

    omnduut.com

    ReplyDelete
  16. oh my, ternyata bagus yah dalamnya si Mesjid ini, suka banget sama warna tegelnya. Btw waktu aku ke sini, mesjidnya lagi direnovasi dan ga sempat mampir ke dalam, kayaknya musti coba stay 1 atau dua hari di Melaka deh buat eksplor

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar. Silahkan tinggalkan jejak, ya.

Follow my media social for any update of articles
Twitter: @mandalagiri_ID
Instagram: mandalagiri_ID

 

About Me

My Photo

Travel - Eat - Write
"Learn from yesterday, life for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning - Albert Einstein"

Facebook | Levina.Mandalagiri
Twitter | @mandalagiri_ID
Instagram | mandalagiri_ID

Followers

Google+ Followers

Warung Blogger

Hijab Blogger

Kumpulan Emak Blogger

IDCorner

ID Corners

Fun Blogging

Fun Blogging

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan