Mencari Jejak Cinta Pangeran Tiongkok & Putri Palembang di Pulau Kemaro

mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Mengunjungi Palembang tidak lengkap tanpa mengunjungi Pulau Jodoh. Pulau Jodoh adalah sebutan lain untuk Pulau Kemaro, sebuah delta kecil di muara Sungai Musi. Konon kabarnya pulau ini terbentuk dari jasad Siti Fatimah, seorang putri raja Palembang, yang tenggelam mencari suaminya Tan Bun Ah. Pulau inilah yang dianggap sebagai wujud bersatunya dua insan yang saling mengasihi, sehingga pulau ini juga terkenal dengan sebutan Pulau Jodoh. Tetapi, apakah betul jenazah Putri Siti Fatimah dan Pangeran Tiongkok yang berada di pulau ini?

Rasa penasaran membawa saya menyusuri Sungai Musi yang terkenal itu menuju pulau cinta dua bangsa. Menuju ke pulau ini bisa dilakukan dengan menggunakan perahu yang disebut getek, ataupun perahu motor cepat. Harga untuk menyusuri Sungai Musi dari pelataran plaza di depan Benteng Kuto Besak Rp 150.000 pulang pergi dengan menggunakan perahu motor biasa, sedangkan jika kita menggunakan perahu motor cepat, pemilik perahu menawarkan Rp 250.000 pulang pergi. Sedikit lebih mahal dari hari-hari biasanya memang, karena waktu itu bertepatan dengan event Gerhana Matahari Total.


Awalnya dalam bayangan, getek itu adalah semacam rakit yang tersusun dari bambu-bambu panjang yang diikat membentuk papan persegi panjang, dan digerakkan dengan menggunakan batang bambu panjang seperti dikayuh. Tetapi yang ada disini semuanya adalah perahu kayu yang telah menggunakan motor. Perahu yang membawa kami berukuran agak besar. Ada 5 bangku panjang berderet melintang di bagian tengah perahu. Jika dianggap satu bangku bisa diisi 3 orang, berarti total penumpang yang dapat diangkut perahu ini minimum sekitar 15 orang. Berhubung saya telah membayar Rp 150.000, perahu berangkat tanpa harus menunggu muatan lain. Rasanya lapang sekali perahu ini hanya berisi kami berempat. Si pemilik perahu bilang, “kamu bisa berlarian di atas perahu dengan bebas.” Ah, mana berani saya berlarian di atas perahu, terhempas arus Sungai Musi saja kami terbanting-banting ke kanan dan ke kiri.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro

Lintasan perahu siang itu belum begitu ramai. Sesekali sebuah perahu yang lebih kecil bergerak dengan cepat mendahului perahu kami. Oh, itu mungkin yang namanya perahu motor cepat. Jika kalian diburu waktu, memilih perahu motor cepat lebih efisien, karena bisa mempersingkat waktu menuju Pulau Kemaro. Sebetulnya selain dari bawah Jembatan Ampera, kita bisa menggunakan jalur lain, melalui daerah dekat pabrik Pupuk Sriwijaya. Jarak penyeberangan dari situ lebih pendek jika dibandingkan dari bawah jembatan. Saya tidak mengambil jalur yang ini, karena saya ingin menikmati menyusuri aliran Sungai Musi yang berwarna kecoklatan lebih lama. Mengamati denyut kehidupan sungai dengan rumah-rumah terapung dan juga penjaja-penjaja bahan bakar terapung yang tersebar di sepanjang aliran sungai.

Setelah beberapa lama perahu melaju, ujung merah Jembatan Ampera semakin memudar, untuk kemudian hilang dari pandangan, berganti dengan deretan tangki-tangki, cerobong, tower, conveyor, dermaga, dan juga kapal-kapal muatan lengkap dengan crane ship milik Pabrik Pupuk Sriwijaya. Ya, Pulau Kemaro memang terletak antara pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Refinery Unit III Plaju. Terlihat asap putih mengepul dari cerobong pabrik.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Perahu melaju melewati area PUSRI. Tiba-tiba tercium bau khas yang sedikit menyengak. Ugh! Amonia bukan yak? Pikiranku mencoba mencerna bau zat yang tercium syaraf-syaraf pencium. Ingatanku melayang pada masa-masa kuliah kimia. Samar-samar teringat bahwa salah satu bahan baku pembuatan pupuk adalah Amonia, yang merupakan gas yang berbau tajam. Unit pembuatan sintesa Amonia PUSRI menghasilkan Amonia cair dan CO2 yang digunakan sebagai bahan baku pupuk urea. Untunglah, tak lama kemudian, baunya menghilang, seiring dengan munculnya puncak pagoda yang berwarna merah, kontras dengan kondisi sekitar.

“Kita sudah sampai! Tuh, pagodanya sudah terlihat!” Seruku pada anak-anak yang langsung heboh menanyakan dimana pagodanya dan bangunan apa itu.

Drodododot dot dot dot! Bunyi motor perahu yang nyaring terdengar dari tadi, bersaing dengan suara saya yang mencoba menjelaskan pada anak-anak, bahwa Pulau Kemaro ada dihadapan, serta di situ terdapat kelenteng yang telah berdiri ratusan tahun dan masih terawat. Rasanya saya sudah mengeluarkan suara sekencang mungkin dan menjelaskan panjang lebar, namun anak-anak hanya menjawab, “hah? Apa Bu? Hah?” Seraya mendekatkan kupingnya mendekati saya. Ah, percuma, hanya menghabiskan energi saja teriak-teriak di atas perahu yang sedang melaju.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Tidak begitu lama, dermaga Pulau Kemaro pun tampak dan semakin membesar. Wah! Cantik sekali! Saya membathin dalam hati. Sepanjang dermaga terdapat jembatan-jembatan papan yang dikelilingi oleh pagar-pagar kayu yang berwarna merah. Pohon-pohon palem berjejer, seolah menyambut kedatangan kita, dan gerbang selamat datang yang berhiaskan patung naga di bumbungannya semakin menambah kesan budaya Tiongkok di pulau ini. Belum lagi dengan bangunan pagoda berlantai 9 yang menjulang tinggi. Feels like that we were in different country, such as Korea, Japan, or China. I like the atmospher!

Tapi walaupun serasa di Korea, layaknya di drama-drama sageuk (drama sejarah Korea), tapi deretan pohon palem, malah menimbulkan kesan Arab yang teduh dan tenang. Haha! That’s the way I felt!

Perahu merapat di dermaga Pulau Kemaro. Si pemilik perahu menarik ujung perahunya supaya merapat ke dermaga, untuk memudahkan kami naik ke atasnya. Kami pun naik ke ujung perahu dan melompat ke arah dermaga. Si pemilik perahu meminjam uang Rp 50.000 sebelum kami masuk ke dalam. “Bapak nunggu kami kan?” Tanya saya was-was sambil menyerahkan uang sebesar yang diminta, takut si pemilik perahu akan meninggalkan kami di pulau ini. Si pemilik perahu mengangguk, dan saya pun merasa tenang.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Pulau seluas kurang lebih 24 hektar ini masih terlihat sepi ketika kami datang. Hanya ada beberapa rombongan wisata yang mengunjungi tempat ini, termasuk kami. Ada yang datang bersama rombongan wisata dengan menggunakan tour guide, dan kebanyakan mereka menggunakan pakaian yang seragam.  Beberapa juga datang secara pribadi, bersama suami/istri atau bersama teman. Tidak terlihat kios-kios, restoran atau pujasera di kompleks ini. Yang ada hanya beberapa pedagang kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. Untung perut kami telah terisi sebelumnya, sehingga tidak perlu kelabakan mencari makanan di sini. Pulau ini sebetulnya berpenghuni, bahkan katanya pemkot mempunyai 10 unit bungalow untuk disewakan kepada pengunjung yang ingin bermalam di Pulau Kemaro.


Saat kami masuk, tidak jauh dari gerbang naga, terdapat sebuah batu besar berwarna coklat tembaga yang menuliskan kisah legendaris sang Putri Palembang dan Pangeran Tiongkok. Rata-rata pengunjung tertarik untuk membaca kisah yang tertera di batu itu termasuk berfoto dengan berbagai macam pose di depan batu itu. Ada yang model berbaring kayak mermaid, ada yang berpose menyamping dengan kepala ditompang tangan dan kaki menekuk, ada juga yang berpose standar atau jadul dengan hanya berdiri atau duduk manis di depan/pinggir batu.

Tak jauh dari batu, terdapat klenteng Tridarma Hok Tjing Rio. Klenteng ini dipercaya telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Pintu-pintu kerawangnya masih tertutup rapat saat kami datang. Di pelataran klenteng yang tertutup atap bergantungan lampion-lampion merah, mungkin sisa-sisa Cap Go Meh, bulan Februari lalu. Di samping klenteng, terdapat tungku perabuan, yang tidak kalau menarik. Semakin berjalan ke dalam, terlihat bangunan pagoda berlantai 9 yang menjulang setinggi 40 meter. Pagoda cantik, hanya sayang tidak bisa dimasuki. Di ujung tangga terhalang oleh gerbang yang digembok.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Hmmm, ngomong-ngomong dimana ya letak kuburan Siti Fatimah dan Tan Bun An yang terkenal itu?

Kisah cinta mereka berdua melegenda bahkan beritanya menembus batas-batas negeri, terbawa ke negeri tetangga. Kisah tentang seorang pangeran dari negeri Tiongkok yang mempersunting putri raja Palembang. Tan Bun An, nama pangeran itu, jatuh hati kepada Siti Fatimah sang putri raja. Singkat cerita, hubungan mereka direstui orang tua kedua belah pihak setelah melalui serangkaian cerita. Raja Tiongkok menganugrahi 7 guci berisi emas permata, yang ditutupi dengan sawi untuk mengecoh para bajak laut. Tetapi, Tan Bun An menyangka bahw guci tersebut hanyalah berisi sawi busuk, membuangnya ke Sungai Musi. Namun saat akan membuang guci terakhir, diketahui bahwa guci tersebut berisi emas permata, Tan Bun An pun tanpa pikir panjang meloncat ke dalam sungai untuk menyelamatkan harta tersebut. Pelayannya mengikutinya. Siti Fatimah yang melihat suaminya tidak muncul ke permukaan kembali, menyusul melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkan sang suami. Itulah terakhir kali sepasang pengantin muda ini terlihat, dan berganti dengan timbulnya gundukan tanah yang sekarang disebut dengan Pulau Kemaro. Moral of the story: komunikasi itu penting coy! Coba dulu belum ada android, kan bisa Whatsup ke Tiongkok: Papih, emasnya ditaro dimana?
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
Terus, kenapa pula pulau ini dinamakan Kemaro? Mungkin berasal dari kata kemarau yang mengandung arti kering. Mungkin maksudnya delta Sungai Musi ini selalu kering tidak tergenang air sungai.  Ngga tahu juga sih, ini hanya menebak-nebak saja. Ah, mulai sok tahu niy!

Kembali kepada pencarian makam sang pengantin baru. Saya celingukan melihat dimana letak kuburannya. Tapi saya harus kecewa karena tidak menemukannya. Saya pun kembali ke area klenteng Tridarma. Dari arah klenteng ke ujung pulau, terdapat sebuah bangunan mirip pendopo. Saat saya berjalan ke arahnya, saya melihat gundukan batu seperti nisan china, lengkap dengan altar tempat menaruh hio. Masih terlihat sisa-sisa hio yang sudah terbakar. Apakah ini makam sang putri dan pangeran? Ah, saya tidak tahu, karena yang tertulis di situ semua berhuruf China.

Pintu klenteng pun mulai dibuka. Beberapa orang masuk dan mulai melakukan ibadah. Saya pun penasaran melongok dari arah pintu. Tepat di tengah sejajar dengan pintu masuk, terdapat nisan batu serupa yang berwarna merah. Ditengahnya seperti terdapat ranjang/meja altar persegi kecil dengan kelambu, dan terlihat diseberang nisan batu ada juga batu merah lainnya. Apakah ini makamnya putri dan pangeran? Sekali lagi saya tidak bisa menjawabnya. Kelak saya bertanya pada salah seorang teman yang masih keturunan China, untuk membaca aksara yang tertulis di batu tersebut. Namun sayangnya teman saya itu tidak pula bisa menjawabnya.
mencari jejak cinta pangeran tiongkok dan putri palembang di pulau kemaro
“Lu nanya sama orang yang salah,” ujarnya sambil ketawa, “gua mana ngarti bahasa itu.”

“Masa sih ngga tahu? Emang ngga ada keharusan belajar Bahasa China, kayak gua belajar bahasa Sunda?” Tanya saya. Eh, saya emang belajar Bahasa Sunda, tapi sama juga saya ngga bisa baca tulisan Sunda Buhun, hanacarakadatasawala itu. Hahaha. Ini kali yang dinamakan sebelas duabelas!

“Haha, gua ngga belajar itu! Gua kan KW3!” jawabnya lagi, memupus harapan saya untuk mengetahui apakah itu adalah makam sang putri dan sang pangeran. "Jangan-jangan, lo malah KW4," gurau saya yang dengan gelo dia jawab, "kalau ada KW10, kayaknya gua KW10 dah, hahaha!"

Rasa penasaran saya pun ikut terkubur bersama jawabannya. 

20 comments:

  1. Hahahaaha,,, ceritanya seru mbak, bagian akhir cukup menghibur...
    Eh iya dahulu mana ada hp ya? kan nggak bisa wattsap atau telponan lah,,, kenapa kok nggak di cek di darat aja, tuh guci isinya apa... la kalau isinya benar - benar emas, busyet dah pangeran itu kaya banget,,, untuk bisnis dan biaya hidup sudah cukup, hahaha....
    inilah pasangan yang dinamakan romantis mbak, sehidup semati beneran,,,
    Pria lompat ke laut, yang puteri juga demikian,,, hehehehe
    keren :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya zaman dulu sriwijaya kaya raya, malah dibilang orang2 sriwijaya hartanya banyak sampe ngalah2in orang2 arab gosipnya. Bisa jadi sih kalau jadi jalur perdagangan dunia. Bisa dari bea masuk ke sungai kali yak untungnya...belum dari hasil buminya yang terkenal ke negara2 lain kyk rempah2 dll.

      Herannya zaman dahulu cintanya tragis2 yak.

      Delete
  2. Mbak tanya dong asal dari palembangkah??

    ReplyDelete
  3. perjalanan yang seru banget :)
    hanya dari membaca tulisan ini, saya seolah ikut dalam perjalanan Mbak Levina :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...iya mbak, seru. tempat ini membuat saya ingin balik lagi ke sini suatu hari kelak.

      Delete
  4. kebayang asik bgt jalan2nya pakai perahu, anakku kepengen bgt nyobain naik perahu.. oot, amonia itu baunya ky bau pesing gak mbak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru Mbak naik perahu kalau kita jarang menaikinya, sama kayak saya, naik perahu jadinya berasa excited banget. Bau amonia mirip2 bau pesing gitu yg agak tajam, kadang2 air kencing juga suka berbau begitu sih.

      Delete
  5. Pemandangannya emang terasa kaya di luar negeri ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, Indonesia banyak sekali kekayaan alamnya. Sebetulnya kalau mau dikelola profesional, wisata berkelanjutan, jangan jauh2, kayak Singapore dan Malaka ajah, keren banget pastinya. Kadang suka merasa sedih juga sih. Kendalanya yang utama sih di transportasi dan infrastructure kalau menurut saya.

      Delete
  6. kalau ngomongin liburan pasti gak bakalan bosen. kemanapun pasti seru, apalagi ke luar kota. mau tanya mba.. murah gak sih kalau jalan2 ke luar kota ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya sih tergantung cara menikmatinya, dimana pun asyik. hihi. Ke luar kota belum tentu juga seru, kalau lagi bad mood, apalagi kalau tempat wisata yang kita tuju ngga seperti bayangan kita sebelumnya, wkwkwk, biasanya langsung ill feel.

      Kalau murah ngga nya sih, tergantung tempat yang di tuju. Terus sering-sering pantengin promo airline kalo bepergiannya pakai pesawat. Beberapa kasus harga pesawat lebih murah dibanding kereta api. Biasanya budget terbesar transportasi dan penginapan. Trus jangan mikirin oleh2, hahaha. Kadang beli oleh2 budgetnya suka ngga terduga.

      Delete
  7. aku pernah ke pulau Kemaro, pagodanya indah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, cuma sayangnya saya ngga masuk ke dalamnya. Dipagari dan dikunci. Keren juga sih tempatnya. Enaknya bawa makanan, trus gelar tikar di bawah pohon-pohon. Habis yang jualan makanan minim sekali yak Mbak...

      Delete
  8. Wah keren ini perjalanan yang panjang dan menyasyikan ya mbak Levi :)

    Iya kalau di Semarang yang namanya gethek juga terbuat dari rangkaian bambu yang diikat jadi satu terus didayung, ternyata lain daerah lain penampakan ya mbak meskipun namanya sama :)

    Foto-fotonya bagus tapi kurang besar mbak, saya pakai laptop 10inch lihatnya kurang puas, tapi seru perjalanannya :)

    ReplyDelete
  9. Pemandangannya cantik-cantik sekali. Lokasinya bersih dan rapi ya. Cerita sejarahnya mirip San Pek Eng Tay. Agak sulit dipercaya kebenarannya tapi menarik. Kupikir malah pangeran tiongkok dan putri palembang itu punya anak banyak karena orang palembang itu mirip chinese lho...

    ReplyDelete
  10. Narasi perjalanan nya dahsyat banget hihiiii, lengkap
    Waktu naik kapal, juga diceritainnya detail,,..aih harus belajar nulis perjalanan ala dikau akuh berarti

    Akupun jadi pnasarannama makam warna merahnya, jangan2 memang itu juburan sang legenda siti fatimah dan suamik , huaaa...aku suka legenda asal usul tempat soalnya
    Klo banyak palem ingetnya pohon kurma yang ada di arab ya, hihihi
    Wah bapak kapal itu akhirnya balik lagi kah mb, ngasih kembalian?

    ReplyDelete
  11. Wow...Asyiknya bisa ketempat pulau jodoh dan melihat pagoda dari dekat...

    kapan saya bisa kesana...padahal kakek dan nenek asli orang SUMSEL tapi belum pernah.. hikz hikz

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar. Silahkan tinggalkan jejak, ya.

Follow my media social for any update of articles
Twitter: @mandalagiri_ID
Instagram: mandalagiri_ID

 

About Me

My Photo

Travel - Eat - Write
"Learn from yesterday, life for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning - Albert Einstein"

Facebook | Levina.Mandalagiri
Twitter | @mandalagiri_ID
Instagram | mandalagiri_ID

Followers

Google+ Followers

Warung Blogger

Hijab Blogger

Kumpulan Emak Blogger

IDCorner

ID Corners

Fun Blogging

Fun Blogging

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan