Memberi Tidak Bakal Membuat Kita Miskin

the power of giving
Siang itu setiap orang di dalam kelas memperoleh satu gelas plastik yang berisikan 5 buah permen. Tugas kali tidak begitu berat. Kita diminta maju ke depan, membentuk lingkaran. Instruksi trainer adalah:
"Tugas kalian adalah memberikan setiap permen yang ada dalam gelas masing-masing kepada temannya sebanyak mungkin. Kemudian hitung setiap kalian memberikan permen tersebut. Kalian diberi waktu 3 menit."
Kami menatap 5 buah permen yang ada di dalam gelas plastik. 5 buah permen yang harus dibagikan. Begitu aba-aba mulai terdengar, kami pun bergerak secepat mungkin memberikan setiap permen yang ada di dalam gelas plastik. Semua berputar tidak beraturan. Ada yang bertabrakan karena saking ingin cepatnya memberikan permennya. Ada pula yang bingung memberikan permennya kepada siapa. Waktu 3 menit pun berlalu.
"Ya, sekarang hitung ada berapa permen yang tersisa?"
Masing-masing dari kami menghitung permen yang tersisa di dalam gelas plastik kami. Ada yang mendapat lebih banyak dari permulaan, ada yang mendapat lebih sedikit, ada yang jumlahnya sama dengan permulaan, ada pula yang kosong.
"Sekarang saya bertanya, berapa kali kalian memberikan permen kepada teman kalian? Yang 10 kali?"
Tidak ada yang mengangkat tangannya.
"20? 30?" Masih tidak ada yang mengangkat tangan. "50?" Ada salah seorang yang mengangkat tangan. "60?" Beberapa orang mengangkat tangannya. "70?" Semakin banyak yang mengangkat tangan. "Lebih dari 80?" Beberapa mengangkat tangannya.
"Ini namanya permainan memberi," trainer menjelaskan permainan tadi, "awalnya kalian diberi masing-masing 5 permen. Tetapi ternyata kalian bisa memberi lebih dari 80 permen kepada teman-teman kalian. Nah, ini menjelaskan kenapa memberi tidak akan pernah membuat kita kehabisan."
Hmmm, betul juga. Malah kita masih mempunyai sisa permen walaupun kita telah membagikan permen tersebut kepada teman-teman kita.
Selama ini saya tahu bahwa memberi sangat lah dianjurkan dalam agama. Jika kita memberi, maka Allah akan mengganti berkali lipat. Saya yakin janji Allah itu adalah benar.
Suatu ketika ada sebuah cerita dari negeri gurun pasir. Di tengah teriknya matahari Mina di musim haji, seorang wanita Afrika kehausan meminta belas kasihan orang untuk mensedekahkan air minum. Dan, seorang wanita Indonesia memberikan setengah botol air minum yang dibawanya. Setengah botol itu adalah minuman yang tersisa, sedangkan perjalanan menuju Jamarat masih cukup jauh.
Tetapi, tidak disangkanya, janji Allah begitu dekat, tidak perlu menunggu waktu yang lama, Allah pun membalasnya berkali lipat. Begitu keluar dari pintu Jamarat, seorang pria Arab sedang membagi-bagikan sedekah. Dia melambai-lambaikan tangannya supaya si perempuan mendekati kontainer besar. Dilihatnya antrian panjang mengular. Tetapi di pria memberi isyarat untuk tidak usah mengantri. Diberikannya satu kardus minuman kepada si perempuan tersebut. Bukan hanya air putih setapi juga jus buah di dalamnya. Allahu Akbar!! That's the power of giving, I think.
Setiap orang pasti meyakini bahwa memberi akan membuat kita kaya. Tetapi pada saatnya, terkadang kita berat untuk memberi. Apalagi jika ternyata barang itu adalah satu-satunya milik kita. Pasti berat ya memberikannya. Alasannya pun beragam. Kita juga sedang butuh, ngga bisa minjemin atau ngasih. Aduuh, lagi ada keperluan, maaf yak. Dan beribu alasan lainnya.
Saya pernah dengar sebuah ceramah mengenai memberi. Ustadz bilang, malah ketika seseorang memuji milik kita, maka kita harus memberikannya. Misal, "ih, tasnya bagus banget." Nah, berarti kita harus rela memberikan tas tersebut. Alamak, bagaimana ini. Sudah serela itu kah saya? Memberikan yang terbaik dan mungkin hanya satu-satunya yang kita miliki.
Urusan beri-memberi juga bisa merambah berbagai hal. Memberikan ilmu contohnya. Ilmu yang kita bagi akan semakin membuat kita pintar. Kan kita menerangkan tuh, jadi lama-lama kita akan hapal. Jadi pelit untuk berbagi ilmu. Jangan merasa dengan berbagi ilmu, orang lain akan pintar dan bisa mengalahkan kita. Berbagilah, maka kita akan kaya. Tapi teuteuup, susah prakteknya yak? Apalagi jika pernah mempunyai bad experience dalam hal memberi atau pinjam meminjam. Kalau kamu bagaimana? Apakah akan memberi tanpa mengharap imbalan apa-apa?
Oya, tulisan ini bukan bermaksud menyindir ataupun punya tujuan tertentu. Hanya tertarik dengan sebuah permainan memberi pada pelatihan leadership. 

15 comments:

  1. Pas saya pelatihan leadership pun sama diberikan materi tentang memberi dan mendapatkan cuman bedanya ga pake praktek hanya sekedar teori yang biasa UYM berikan "jika kita ingin dapatkan sesuatu maka bukan meminta tapi memberi"
    Jadi ide buat saya kasi training dg praktek permen ini mba hehehe..makasi sharenya mba ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, awalnya saya pikir, ngapain dibagi permen segala, kirain buat di makan. Hahaha. Tapi saya jadi termenung juga setelahnya. Bener juga ternyata bahwa dengan memberi kita memperoleh banyak.

      Delete
  2. Benar sekali tajuk artikel ini. Kaya bukan Berarti mampu membeli. Tetapi mampu memberi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah super banget...kaya bukan berarti mampu membeli, tetapi mampu memberi. Iya bener, bener sekali. Kadang mata juga silap yak..yang dilihat si anu kaya, padahal yang lebih kaya adalah yang suka memberi.

      Delete
  3. Nah kalau dipuji terus diberikan kepada yang memuji ,bisa tekor. Apalagi aku sering dipuji orang habis deh barang yang aku miliki.
    Hidup ini memang ada dua hal, memberi dan diberi. Beri dulu nanti kita akan diberi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya saya pun agak kaget juga. Halah kalau semua dibilang bagus dikasih semua dong. Yang muji ngga kira-kira berarti. Xixixi. Tapi iya lho kata Pak Ustadz itu, jangan pernah merasa memiliki, pemiliknya adalah Allah. Kata yang gampang diucapkan, tetapi penuh tantangan untuk menjalankannya.

      Delete
  4. I totally agree with you. The more we give, the more we get.

    ReplyDelete
  5. Sy jd kesindir dg waktu yg dberikan dan siapa cepat yg bs memberi. Di rumah suka nyiapin entah itu baju bekas layak pakai, barang2 recylce, dll. Tp ngasihnya itu msh suka dientar2.. euh jd lgsg smgt buat segera ngasi k yg ngebutuhin. Tfs mb

    ReplyDelete
  6. Saya pernah mba bilang ke temen, "Mb brosnya bagus banget,"
    langsung dia mencopot brosnya, "Nih buat kamu aja"
    "Mba kok gitu!"
    "Kata Rasul, kalau orang suka dengan barang yang kita punya. Kasih aja. Toh ini kan barang bukan punya kita, tapi punya Allah" jegeeer, langsung dapat pelajaran berharga hari itu juga

    ReplyDelete
  7. Sebuah pelajaran bagi pembelajar abadi semacamku. Your life is not belongs to you. It belongs to Allah. Jadi apa lagi alasan untuk kikir?

    ReplyDelete
  8. yg selalu diajarin papa ama aku... sedekah, sedekah, sedekah.. ga ush takut miskin, ga usah takut hrta habis.. jgn pernah ngarepin apapun dr yg udh kita kasih... biar semuanya jd urusan allah. kalo allah mau membalas berkali lipat, ucapkan syukur.. tp kalo tidak, tetep harus bersyukur dan trus berbagi. tugas kita, hanya memberi ke org yg membutuhkan :).. alhamdulilah mbak, hidup jd lebih tenang..

    ReplyDelete
  9. Yes setuju, karena kita tidak akan pernah bisa menjangkau hitungan langit yang penuh dengan mukjizat :D

    ReplyDelete
  10. Bagus kegiatan yang dikasih sama trainernya. Jadi bisa merenung sendiri. Setuju banget bahwa memberi akan mendatangkan berkah. Berkah ga selalu berupa materi kembali, tapi bisa berupa teman baru, saudara baru, dll. Thanks for sharing this ya Mba! :)

    ReplyDelete
  11. Kegiatannya bagus mbak :D
    Saya setuju kalau memberi itu pasti gak bakal bikin kita kekuragan :D
    Tapi soal memberi utangan saya jg liat2 orangnya sih mbak, biasanya drpd sakit ati ngutangin, saya lbh baik kasi seikhlasnya, tp tentu nominalnya tdk sebesar yg dibutuhkan (krn emang pas lagi gk ada duitnya :)) ) ya liat2 org dan konteks apa dulu...

    ReplyDelete
  12. Memberi kadang hal tersulit tuk dilakukan. Tapi nyatanya, emang manfaatnya jauh lebih besar dari yg kita kira,

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar. Silahkan tinggalkan jejak, ya.

Follow my media social for any update of articles
Twitter: @mandalagiri_ID
Instagram: mandalagiri_ID

 

About Me

My Photo

Travel - Eat - Write
"Learn from yesterday, life for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning - Albert Einstein"

Facebook | Levina.Mandalagiri
Twitter | @mandalagiri_ID
Instagram | mandalagiri_ID

Followers

Google+ Followers

Warung Blogger

Hijab Blogger

Kumpulan Emak Blogger

IDCorner

ID Corners

Fun Blogging

Fun Blogging

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan